Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 20 Juli 2025

Renungan Harian Hari Ini 20 Juli 2025, Pembacaan Injil Lukas 10:38-42 (baca Alkitab – klik disini)

Pembacaan I: Kej. 18:1-10a; Mazmur: 15:2-3ab.3cd-4ab.5; R:1a; Pembacaan II: Kol. 1:24-28; O Pekan IV PEKAN BIASA XV (H); Elia, Nabi; Sta.Margaretha dr Antiokhia; St.Vinsent Kaun; St.Apolinaris UskMrt.;

Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik.

Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah,

serta berkata: “Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu ini.

Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini;

biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini.” Jawab mereka: “Perbuatlah seperti yang kaukatakan itu.”

Lalu Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata: “Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar!”

Lalu berlarilah Abraham kepada lembu sapinya, ia mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya dan memberikannya kepada seorang bujangnya, lalu orang ini segera mengolahnya.

Kemudian diambilnya dadih dan susu serta anak lembu yang telah diolah itu, lalu dihidangkannya di depan orang-orang itu; dan ia berdiri di dekat mereka di bawah pohon itu, sedang mereka makan.

Lalu kata mereka kepadanya: “Di manakah Sara, isterimu?” Jawabnya: “Di sana, di dalam kemah.”

Dan firman-Nya: “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.” Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya.

.

Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,

yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;

yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;

dan yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;

yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.

.

Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.

Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu,

yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya.

Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!

Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.

.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.

Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,

sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,

tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

.

Sesudah lewat empat tahun bertanyalah Absalom kepada raja: “Izinkanlah aku pergi, supaya di Hebron aku bayar nazarku, yang telah kuikrarkan kepada TUHAN.

Sebab hambamu ini, ketika masih tinggal di Gesur, di Aram, telah bernazar, demikian: Jika TUHAN sungguh-sungguh memulangkan aku ke Yerusalem, maka aku akan beribadah kepada TUHAN.”

Lalu berkatalah raja kepadanya: “Pergilah dengan selamat.” Maka berkemaslah Absalom dan pergi ke Hebron.

Dalam pada itu Absalom telah mengirim utusan-utusan rahasia kepada segenap suku Israel dengan pesan: “Segera sesudah kamu mendengar bunyi sangkakala, berserulah: Absalom sudah menjadi raja di Hebron!”

Beserta Absalom turut pergi dua ratus orang dari Yerusalem, orang-orang undangan yang turut pergi tanpa curiga dan tanpa mengetahui apapun tentang perkara itu.

Ketika Absalom hendak mempersembahkan korban, disuruhnya datang Ahitofel, orang Gilo itu, penasihat Daud, dari Gilo, kotanya. Demikianlah persepakatan gelap itu menjadi kuat, dan makin banyaklah rakyat yang memihak Absalom.

Lalu datanglah seseorang mengabarkan kepada Daud, katanya: “Hati orang Israel telah condong kepada Absalom.”

Kemudian berbicaralah Daud kepada semua pegawainya yang ada bersama-sama dengan dia di Yerusalem: “Bersiaplah, marilah kita melarikan diri, sebab jangan-jangan kita tidak akan luput dari pada Absalom. Pergilah dengan segera, supaya ia jangan dapat lekas menyusul kita, dan mendatangkan celaka atas kita dan memukul kota ini dengan mata pedang!”

BACAAN OFISI – Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 20 Juli 2025

Dan lihat, juga Zadok ada di sana beserta semua orang Lewi pengangkat tabut perjanjian Allah. Mereka meletakkan tabut Allah itu?juga Abyatar ikut datang?sampai seluruh rakyat dari kota selesai menyeberang.

Lalu berkatalah raja kepada Zadok: “Bawalah tabut Allah itu kembali ke kota; jika aku mendapat kasih karunia di mata TUHAN, maka Ia akan mengizinkan aku kembali, sehingga aku akan melihatnya lagi, juga tempat kediamannya.

Tetapi jika Ia berfirman, begini: Aku tidak berkenan kepadamu, maka aku bersedia, biarlah dilakukan-Nya kepadaku apa yang baik di mata-Nya.”

Lagi berkatalah raja kepada Zadok, imam itu: “Jadi, engkau dan Abyatar, pulanglah ke kota dengan selamat beserta anakmu masing-masing, yakni Ahimaas anakmu dan Yonatan, anak Abyatar.

Ketahuilah, aku akan menanti di dekat tempat-tempat penyeberangan ke padang gurun, sampai ada kabar dari kamu untuk memberitahu aku.”

Lalu Zadok dan Abyatar membawa tabut Allah itu kembali ke Yerusalem dan tinggallah mereka di sana.

Daud mendaki bukit Zaitun sambil menangis, kepalanya berselubung dan ia berjalan dengan tidak berkasut. Juga seluruh rakyat yang bersama-sama dengan dia masing-masing berselubung kepalanya, dan mereka mendaki sambil menangis.

Ketika raja Daud telah sampai ke Bahurim, keluarlah dari sana seorang dari kaum keluarga Saul; ia bernama Simei bin Gera. Sambil mendekati raja, ia terus-menerus mengutuk.

BACAAN OFISI – Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 20 Juli 2025

Daud dan semua pegawai raja Daud dilemparinya dengan batu, walaupun segenap tentara dan semua pahlawan berjalan di kiri kanannya.

Beginilah perkataan Simei pada waktu ia mengutuk: “Enyahlah, enyahlah, engkau penumpah darah, orang dursila!

TUHAN telah membalas kepadamu segala darah keluarga Saul, yang engkau gantikan menjadi raja, TUHAN telah menyerahkan kedudukan raja kepada anakmu Absalom. Sesungguhnya, engkau sekarang dirundung malang, karena engkau seorang penumpah darah.”

Lalu berkatalah Abisai, anak Zeruya, kepada raja: “Mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya.”

Tetapi kata raja: “Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?”

Pula kata Daud kepada Abisai dan kepada semua pegawainya: “Sedangkan anak kandungku ingin mencabut nyawaku, terlebih lagi sekarang orang Benyamin ini! Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab TUHAN yang telah berfirman kepadanya demikian.

Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan TUHAN membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini.”

Demikianlah Daud melanjutkan perjalanannya dengan orang-orangnya, sedang Simei berjalan terus di lereng gunung bertentangan dengan dia dan sambil berjalan ia mengutuk, melemparinya dengan batu dan menimbulkan debu.

.

renungan harian hari ini

Dalam Bacaan Pertama kita mendengar kisah pelayanan kasih dari Abraham dan Sara saat menerima dan menjamu ketiga tamu yang tidak mereka kenal dengan tulus hati. Mereka telah lama tidak mempunyai anak. Salah seorang tamu yang mereka layani dengan tulus hati itu mengatakan bahwa tahun depan mereka akan memiliki seorang putra.

Keturunannya pun akan terus berkembang sebanyak bintang di langit dan butiran pasir di pantai. Abraham dan Sara memercayai dan mengimani bahwa apa yang dikatakan tamu itu sungguh akan terjadi. Dalam penantian bertahun-tahun kesulitan untuk mendapatkan keturunan, mereka tetap percaya pada Allah.

Dalam Bacaan Injil dikisahkan Yesus bertamu ke rumah Marta dan Maria. Marta sibuk mempersiapkan hidangan, sedangkan Maria duduk di kaki Yesus dan mendengarkan-Nya. Ketulusan hati seseorang tampak dengan menyediakan waktu untuk mendengarkan orang yang ada di dekatnya.

Kita sering kali lebih peduli pada gadget, handphone, dan media-media lainnya daripada peduli pada orang-orang yang ada di sekitar kita. Ada bersama orang-orang terkasih, tetapi tanpa kebersamaan. Secara fisik kita ada di suatu tempat yang sama, tetapi sesungguhnya kita tidak ada dalam kebersamaan karena kita sibuk dengan diri kita sendiri.

Orang yang kelihatan saja kita abaikan, apalagi Allah yang tidak kelihatan. Padahal, kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sekitar merupakan bentuk pelayanan yang sangat dibutuhkan dewasa ini. Bacaan hari ini mengingatkan kita untuk mendengarkan Tuhan, teristimewa kehadiran Tuhan melalui sesama yang membutuhkan.

.

Saudara-saudariku terkasih dalam Kristus, setelah merenungkan sabda Tuhan hari ini, marilah kita mengangkat hati dan jiwa dalam doa, sebagai wujud penutup permenungan kita dan sebagai ungkapan kerinduan kita untuk hidup dalam pelayanan kasih yang nyata dan mendalam.

Yesus, semoga kehadiran-Mu senantiasa kami temukan dalam wajah-wajah yang kami jumpai hari ini: dalam tamu yang tak kami kenal, dalam keluarga yang menanti perhatian, dalam sahabat yang memerlukan telinga untuk mendengarkan. Semoga hati kami tidak menjadi sibuk oleh hal-hal lahiriah, namun tetap peka akan kehadiran-Mu dalam hal-hal sederhana.

Bila hati kami mulai lebih terpikat pada layar dan suara dunia, ingatkanlah kami bahwa yang terpenting adalah hadir secara utuh di hadapan sesama dan di hadapan-Mu. Jadikanlah kami seperti Maria yang memilih duduk mendengarkan, dan seperti Abraham yang melayani dengan sukacita.

Dalam hidup yang penuh tuntutan ini, ajarkan kami untuk tidak sekadar melakukan, tetapi juga hadir secara utuh. Semoga kami dapat menanggapi panggilan-Mu melalui kasih yang ditunjukkan kepada orang-orang sekitar kami, dan belajar untuk mempercayakan segala hal kepada janji-Mu, seperti Abraham dan Sara yang percaya di tengah keraguan. Amin.

.

Ya Tuhan, bukalah hati kami untuk mendengarkan Sabda-Mu dan melayani sesama yang membutuhkan dengan tulus hati. Amin.

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Baca Juga: Renungan Harian Hari Ini 19 Juli 2025
Baca Juga (KLIK): Doa Pagi Katolik Untuk Awali Hari Indahmu

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here
Prove your humanity: 0   +   4   =