Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 23 Juli 2025

Renungan Harian Hari Ini 23 Juli 2025, Bacaan Injil Matius 13:1-9 (baca Alkitab – klik disini)

Bacaan I: Kel. 16:1-5.9-15; Mazmur: 78:18-19.23-24.25-26.27-28; R:24b; PEKAN BIASA XVI (H) Sta.Brigitta; St.Apolinaris;

Setelah mereka berangkat dari Elim, tibalah segenap jemaah Israel di padang gurun Sin, yang terletak di antara Elim dan gunung Sinai, pada hari yang kelima belas bulan yang kedua, sejak mereka keluar dari tanah Mesir.

Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun;

dan berkata kepada mereka: “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.”

Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak.

Dan pada hari yang keenam, apabila mereka memasak yang dibawa mereka pulang, maka yang dibawa itu akan terdapat dua kali lipat banyaknya dari apa yang dipungut mereka sehari-hari.”

BACAAN I – Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 23 Juli 2025

Kata Musa kepada Harun: “Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Marilah dekat ke hadapan TUHAN, sebab Ia telah mendengar sungut-sungutmu.”

Dan sedang Harun berbicara kepada segenap jemaah Israel, mereka memalingkan mukanya ke arah padang gurun?maka tampaklah kemuliaan TUHAN dalam awan.

Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

“Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.”

Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu.

Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi.

Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: “Apakah ini?” Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu.

.

Mereka mencobai Allah dalam hati mereka dengan meminta makanan menuruti nafsu mereka.

Mereka berkata terhadap Allah: “Sanggupkah Allah menyajikan hidangan di padang gurun?

Maka Ia memerintahkan awan-awan dari atas, membuka pintu-pintu langit,

menurunkan kepada mereka hujan manna untuk dimakan, dan memberikan kepada mereka gandum dari langit;

setiap orang telah makan roti malaikat, Ia mengirimkan perbekalan kepada mereka berlimpah-limpah.

Ia telah menghembuskan angin timur di langit dan menggiring angin selatan dengan kekuatan-Nya;

Dan Ia menurunkan kepada mereka hujan daging seperti debu banyaknya, dan hujan burung-burung bersayap seperti pasir laut;

Ia menjatuhkannya ke tengah perkemahan mereka, sekeliling tempat kediaman itu.

.

Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau.

Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.

Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: “Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.

Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.

Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.

Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.

Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.

Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.

Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

.

Karena pikir Daud: “Salomo, anakku, masih muda dan kurang berpengalaman, dan rumah yang harus didirikannya bagi TUHAN haruslah luar biasa besarnya sehingga menjadi kenamaan dan termasyhur di segala negeri; sebab itu baiklah aku mengadakan persediaan baginya!” Lalu Daud membuat sangat banyak persediaan sebelum ia mati.

Kemudian dipanggilnya Salomo, anaknya, dan diberinya perintah kepadanya untuk mendirikan rumah bagi TUHAN, Allah Israel,

kata Daud kepada Salomo: “Anakku, aku sendiri bermaksud hendak mendirikan rumah bagi nama TUHAN, Allahku,

tetapi firman TUHAN datang kepadaku, demikian: Telah kautumpahkan sangat banyak darah dan telah kaulakukan peperangan yang besar; engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab sudah banyak darah kautumpahkan ke tanah di hadapan-Ku.

Sesungguhnya, seorang anak laki-laki akan lahir bagimu; ia akan menjadi seorang yang dikaruniai keamanan. Aku akan mengaruniakan keamanan kepadanya dari segala musuhnya di sekeliling. Ia akan bernama Salomo; sejahtera dan sentosa akan Kuberikan atas Israel pada zamannya.

Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan dialah yang akan menjadi anak-Ku dan Aku akan menjadi Bapanya; Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya atas Israel sampai selama-lamanya.

Maka sekarang, hai anakku, TUHAN kiranya menyertai engkau, sehingga engkau berhasil mendirikan rumah TUHAN, Allahmu, seperti yang difirmankan-Nya mengenai engkau.

Hanya, TUHAN kiranya memberikan kepadamu akal budi dan pengertian dan membuat engkau menjadi pemegang perintah atas Israel, supaya engkau memelihara Taurat TUHAN, Allahmu.

BACAAN OFISI – Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 23 Juli 2025

Maka engkau akan berhasil, jika engkau melakukan dengan setia ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum yang diperintahkan TUHAN kepada Musa untuk orang Israel. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan janganlah tawar hati.

Sesungguhnya, sekalipun dalam kesusahan, aku telah menyediakan untuk rumah TUHAN itu seratus ribu talenta emas dan sejuta talenta perak dan sangat banyak tembaga dan besi, sehingga beratnya tidak tertimbang; juga aku telah menyediakan kayu dan batu. Tetapi baiklah engkau menambahnya lagi.

Lagipula engkau mempunyai sangat banyak pekerja, yakni pemahat-pemahat batu, tukang-tukang batu dan kayu dan orang-orang yang ahli dalam segala macam pekerjaan

emas, perak, tembaga dan besi, yang tidak terhitung banyaknya. Mulailah bekerja! TUHAN kiranya menyertai engkau!”

Dan Daud memberi perintah kepada segala pembesar Israel itu untuk memberi bantuan kepada Salomo, anaknya, katanya:

“Bukankah TUHAN, Allahmu, menyertai kamu dan telah mengaruniakan keamanan kepadamu ke segala penjuru. Sungguh, Ia telah menyerahkan penduduk negeri ini ke dalam tanganku, sehingga negeri ini takluk ke hadapan TUHAN dan kepada umat-Nya.

Maka sekarang, arahkanlah hati dan jiwamu untuk mencari TUHAN, Allahmu. Mulailah mendirikan tempat kudus TUHAN, Allah, supaya tabut perjanjian TUHAN dan perkakas kudus Allah dapat dibawa masuk ke dalam rumah yang didirikan bagi nama TUHAN.”

.

renungan harian hari ini

Bacaan Pertama mengisahkan bahwa setelah bangsa Israel keluar dari Mesir dan berjalan melintasi padang gurun, mereka mengalami kepanasan, kelelahan, kesepian, kehausan, dan kelaparan. Situasi tersebut membuahkan keraguan, kekhawatiran, dan kekecewaan dalam diri mereka.

Mereka pun mempertanyakan janji Tuhan tentang Tanah Terjanji yang berlimpah susu dan madu. Mereka mengeluh bahwa Musa membawa mereka pergi untuk mati di padang gurun. Meskipun sesungguhnya, di padang gurun, setiap hari Tuhan memberikan kepada mereka makanan dan minuman. Namun, mereka merasa tidak puas.

Iman mereka lemah oleh ketidakpuasan dan ketakutan sehingga mereka berkeluh-kesah walaupun Allah sudah membebaskan mereka dari Mesir dan menjamin hidup mereka selama dalam perjalanan menuju Kanaan.

Situasi ini serupa dengan ketika kita mempertanyakan keberadaan Tuhan. la menjanjikan hal-hal yang baik, tetapi justru membiarkan hal-hal buruk terjadi dalam hidup kita. Pengalaman-pengalaman itu seharusnya menjadikan kita lahan subur untuk menerima benih kasih yang ditaburkan Allah dalam hidup kita.

Seberat apa pun situasi yang kita hadapi, kita harus tetap yakin bahwa Allah selalu menyertai dan menguatkan kita. Dengan percaya kepada-Nya, kita mampu menjadi tanah yang subur bagi benih Sabda Allah.

.

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, marilah kita menutup permenungan ini dengan hati yang terbuka dan penuh iman. Kita satukan suara dan batin dalam doa, memohon kekuatan agar tidak mudah goyah saat hidup terasa berat dan janji Tuhan tampak begitu jauh dari kenyataan.

Ya Tuhan, tanah hati yang gersang oleh kekhawatiran sering membuat kami gagal melihat bahwa rahmat selalu Engkau sediakan. Bukan karena Engkau lalai, tetapi karena kami mudah terjebak pada rasa takut dan lupa mensyukuri roti harian yang kami terima, entah dalam bentuk kehadiran orang-orang terdekat, atau kekuatan untuk bertahan hari demi hari.

Kiranya setiap padang gurun yang kami lewati menjadi kesempatan untuk belajar percaya dan bertumbuh dalam pengharapan. Ajarlah kami untuk tidak hanya mencari Tanah Terjanji yang menjanjikan kenyamanan, tetapi juga menghargai perjalanan panjang yang membentuk hati menjadi matang dalam iman dan kasih.

Semoga keluh kesah yang muncul dalam perjalanan tidak mengalahkan semangat kami untuk terus berjalan bersama-Mu. Dalam keheningan dan kesederhanaan hidup, tuntunlah kami agar tetap peka mengenali kehadiran-Mu yang menuntun dengan setia, meski tak selalu terasa nyata. Amin.

.

Ya Allah, bukalah hati kami untuk mendengar Sabda-Mu dan semoga Sabda-Mu menjadi pelita bagi kami. Amin.

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Baca Juga: Renungan Harian Hari Ini 22 Juli 2025
Baca Juga (KLIK): Doa Pagi Katolik Untuk Awali Hari Indahmu

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here
Prove your humanity: 3   +   1   =