Renungan Harian Hari Ini dan Bacaan Injil 14 September 2025

Renungan Harian Hari Ini 14 September 2025, Pembacaan Injil Yohanes 3:13-17 (baca Alkitab – klik disini)

Pembacaan I: Bil 21:4-9; Mazmur: 78:1-2.34-35.36-37.38; R:7b; Pembacaan II: Flp. 2:6-11; O Pekan IV PEKAN BIASA XXIV Pesta Pemuliaan Salib Suci (M) St.Yohanes Gabriel Dufresse;

Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan.
 
Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.”
 
Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati.
 
Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami.” Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu.
 
Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.”
 
Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.

.

Nyanyian pengajaran Asaf. Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku.
 
Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala.

Apabila Ia membunuh mereka, maka mereka mencari Dia, mereka berbalik dan mengingini Allah;
 
mereka teringat bahwa Allah adalah gunung batu mereka, dan bahwa Allah Yang Mahatinggi adalah Penebus mereka.
 
Tetapi mereka memperdaya Dia dengan mulut mereka, dan dengan lidahnya mereka membohongi Dia.
 
Hati mereka tidak tetap pada Dia, dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya.
 
Tetapi Ia bersifat penyayang, Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan murka-Nya dan tidak membangkitkan segenap amarah-Nya.

.

yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
 
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
 
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
 
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
 
supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
 
dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

.

Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.
 
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
 
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.
 
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
 
Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

.

Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus;
 
namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.
 
Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.

Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham.

Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”
 
Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.

BACAAN OFISI – Renungan Harian Hari Ini dan Injil 14 September 2025

Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.
 
Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.
 
Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.
 
Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.
 
Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, saudara-saudara! Amin.

.

renungan harian hari ini

Pengosongan diri (kenosis) Kristus yang diungkapkan dalam Kidung Filipi sangat menyentuh hati kita. Pengosongan diri total dari kemuliaan yang setara dengan Allah sampai pada salib, wafat sebagai seorang yang menerima hukuman yang paling keji.

Keutamaan pengosongan diri ini membuat Kristus dengan sukarela meninggalkan “kemuliaan-kemapanan-Nya” dan taat, bahkan sampai wafat di salib. Dengan “sama seperti manusia”, kecuali dalam hal dosa, Kristus mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita hidup berkenan di hadapan Allah.

Pengosongan diri Yesus ini hendaknya juga menjadi teladan kerendahan hati bagi kita. Kadang-kadang kita jatuh dalam kesombongan karena status, kekayaan, pangkat-jabatan, atau kenalan atau karena keahlian dan kemampuan kita.

Kita ingin dihormati, diistimewakan dan merasa berhak atas banyak hal. Kita merasa direndahkan ketika orang lain tidak memperlakukan kita sesuai dengan apa yang kita banggakan. Musuh pengosongan diri bukanlah penghargaan dari orang lain, melainkan kesombongan dalam diri kita sendiri.

Keutamaan kerendahan hati ini dapat kita pelajari dalam keluarga melalui hal-hal yang sederhana: kesederhanaan hidup, kemauan untuk bergaul dengan orang sederhana, kerja tangan dan saling membantu dalam aktivitas rumah tangga sehari-hari, serta membaur bersama dengan saudara-saudari dan tetangga kita.

.

Ibu, Bapak, dan Saudara-saudari yang terkasih, mari kita menutup permenungan dengan hati yang tenang. Pengosongan diri Kristus adalah undangan bagi kita untuk menata ulang cara kita memandang hidup. Semoga kita tidak berhenti pada kekaguman, tetapi berani meneladan-Nya dalam kerendahan hati dan kesetiaan pada jalan kasih.

Agar renungan ini sungguh mengendap, biasakanlah mengingat satu momen setiap hari di mana kita berkesempatan untuk merendahkan diri. Catatlah atau bagikan dalam doa malam pribadi. Dengan cara sederhana itu, Sabda Tuhan tidak hanya lewat di pikiran, melainkan mengubah cara kita bersikap.

Ya Bapa, terima kasih atas teladan Yesus Kristus yang rela mengosongkan diri demi keselamatan kami. Bantulah kami untuk melepaskan kesombongan, membuang sikap mementingkan diri, dan hidup dalam kerendahan hati. Tuntunlah agar keluarga dan komunitas kami menjadi ruang nyata pengalaman kasih-Mu.

Semoga hidup kami dipenuhi dengan kesediaan untuk melayani, keikhlasan menerima keterbatasan, dan kerelaan berbagi dengan sesama. Jadikanlah hati kami sederhana seperti Kristus, yang taat sampai wafat di salib. Inilah doa kami, yang kami haturkan dengan penuh syukur, demi Kristus, Tuhan kami. Amin.

.

Ya Bapa, Putra-Mu Yang Agung telah memberikan teladan pengosongan diri. Semoga kami, sebagai murid-Nya, mau mengikuti teladan pengosongan diri-Nya. Amin.

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Baca Juga: Renungan Harian Hari Ini 13 September 2025
Baca Juga (KLIK): Doa Pagi Katolik Untuk Awali Hari Indahmu

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here
Prove your humanity: 0   +   7   =